;http://downloads.totallyfreecursors.com/thumbnails/sweden.gif Nurlailie Zhafirah

Senin, 31 Desember 2018

Women Stuff #White Musk Fragrance Mist Brume Parfumee Review from Body Shop




Bulan lalu, aku belanja di Body Shop. Niat awalnya cuma mau beli body lotion aja, tapi pas sampe disana malah kegoda sama parfumenya. Sebenernya aku bukan tipe yang addicted banget untuk masalah parfume, biasanya pun aku ga pake parfume, tapi pas diinget aku tuh sering banget aktifitas lama di luar ruangan, jadi parfume memang sebenarnya kebutuhan untuk mereduce bau asap.

Nah tibalah memilih milih parfume, karena di Body Shop lebih banyak menjual produk dengan wangi varian buah, aku mau coba cari yang beda. Nah saat itu aku minta tolong sama mbak nya untuk cariin parfume yang wanginya mendekati wangi sabun, dipilihin lah White Musk Fragrance Mist Brume Parfumee ini sama mbaknya, harganya Rp. 209.000. Pas aku coba, wanginya jauh dari wangi sabun, beda. Tapi aku tetep putusin buat beli parfume ini mengingat aku memang lagi butuh parfume.

Pas sampe rumah, sempet nyesel kenapa beli parfume sampe dua ratusan ribu yang padahal aku ga suka wanginya. Pengalaman yang sudah-sudah, wangi parfume paling bertahan satu jam aja, tapi pas aku pake parfume ini, wanginya lumayan tahan lama, aku jadi suka! dan parfume ini nempel banget di baju, aku pakein parfume di jaketku, sampe beberapa hari kemudian wanginya masih ada.

Kelebihan lainnya adalah wangi parfume ini ga terlalu kuat sampe yang bisa bikin enek gitu, tapi malah nyegerin. Untuk harga dua ratus ribuan, parfume ini sangat worth it dipakai.

Keseluruhan aku puas milih White Musk Fragrance Mist Brume Parfumee sebagai parfume aku sekarang. Karena wanginya awet dan sangat segar. Kalau kamu, pilih pakai parfume apa?

Sabtu, 29 Desember 2018

24


25 Desember 2018 (With Keluarga Besar)



9 Desember (With Forca)





8 Desember 2018 (With Boyot)




Minggu, 02 Desember 2018

Kenalan lagi yuk!




Halo, Assalamu’alaikum... setelah diingat-ingat sepertinya saya belum pernah berkenalan dengan benar ya, hehe.
   1. Nama panggilannya siapa sih?
Normalnya, Fira^^ tapi saya punya banyak nama panggil nih. Kalau teman baik smp biasanya memanggil saya dengan sebutan nenek, bukan karna saya seperti nenek-nenek ya, jadi saya punya gank waktu smp, dan membernya diberi nama panggilan dengan nama-nama keluarga seperti uyut, nenek, ibu, tante, cucu, cicit. Dan saya randomly dapetnya “nenek” haha.
Nah, kalau teman kelas waktu SMA, biasa panggil saya dengan sebutan “mem”. Sebutan ini saya dapatkan karena (katanya) saya sabar dan mengayomi seperti seorang ibu, asik... kan jadi enak ya? haha
Kalau kolega kampus beda lagi nih, mereka biasanya panggil saya “piwa” yang merupakan plesetan dari kata “fira”. Kalau teman baik kampus saya biasa panggil saya piwa/tante/umi. Banyak banget ya? haha
Tapi overall, saya paling suka dipanggil “Piwa” daripada nama panggilan lain^

   2. Suka makan apasih?
Yang pedes asin terus manis, abis itu pedes asin lagi, terus makan yang manis lagi hehe ohiya + semua olahan keju karna itu fav banget!

   3. Makanan yang paling ga disuka?
Bagian daging yang kenyel kaya kulit ayam, tetelan, ampela, ceker, dll.

   4. Apa warna fav?
Saya suka banget warna yang gelap, karna terlihat sederhana tapi elegan contohnya warna biru dongker, abu-abu, dan hitam. Lemari baju saya dominan 3 warna tersebut. Ohiya tapi pengecualian untuk warna biru, saya suka semua jenis biru, seperti biru stabilo, dan biru muda.

   5. Punya film yang selalu jadi fav gak sih?
Punya dong!! Harry Potter (So sad, udah tamat filmnya T.T)

   6. Genre film apa sih yang disuka dan paling tidak disuka?
Genre paling disuka itu action/film tentang detektif gitu, yang paling ga disuka thriller! karena saya paling ga suka liat kekerasan dan darah-darahan yang bener-bener di ekspos gitu. Moto saya: Lebih baik nonton horror daripada thriller, hehe.

   7. Introvert atau Ektrovert?
Si introvert yang suka bersosialisasi.

   8. Hal yang paling disuka dan dibenci?
Hal yang paling disuka adalah suasana ketika hujan turun, kumpul dengan orang-orang terdekat, dan punya waktu untuk sendirian. Hal yang paling dibenci adalah diremehkan, tidak dipercaya, dan dibuat menunggu tanpa kejelasan.

   9. Kisah-kisah sedih yang ditulis dalam blog kamu, dari pengalaman pribadi ya?
Lebih tepatnya pengalaman pribadi dan orang lain yang disesuaikan. Eh tapi banyak yang fiktif juga kok. Karena saya orangnya random suka buat tulisan yang sedih-sedih gitu padahal hati selalu senang kok, InsyaAllah:"D

  10. Lulusan Univ manakah?
 UIN JKT angkatan 2013 jurusan PGSD.

  11.Kenapa memilih jadi guru SD?
Saya ingin seperti ibu saya. Alasan lainnya adalah saya suka anak-anak dan saya menyadari bahwa masa SD adalah masa emas anak itu ada. Saya gak mau anak-anak saya, dan anak- anak generasi di masa depan diajarkan oleh guru yang tidak kompeten saat mereka SD. Karena dampaknya bila salah tanam konsep saat masa emas anak, mereka akan terus membawanya sampai besar. Oleh karena itu, saya bertekad menjadi guru SD yang ingin menanamkan nilai-nilai baik dan benar yang akan berguna di masa depan anak.

  12. Apa prioritasmu utamamu?
Keluarga, yang lain nomer setelahnya.

  13. Dari kapan suka nulis, dan kenapa suka nulis?
2012. Awalnya kenapa saya menulis, karena saya sering jadi tempat curhat teman-teman disekeliling saya. Dan saya ingin tulisan saya dapat menjadi jawaban atas segala keresahan mereka. Semenjak itu saya suka menulis, dengan tujuan, kalau lisan tidak dapat mengucapkannya, setidaknya tulisan dapat membahasakannya.

Ya sekian perkenalannya dari saya, semoga yang tidak kenal menjadi kenal, dan yang sudah kenal jadi makin mengenal hehe karena istilah “Tak kenal maka tak sayang” itu benar adanya!^^

Selasa, 20 November 2018

Teruntuk Ia yang namanya selalu ku sebut




Tuhan, apa kau ingat? Aku selalu menengadah tangan dan memohon, agar jangan sampai kau “jatuhkan” aku pada orang yang salah.
Tuhan, apa kau ingat? Aku selalu takut untuk berharap pada sesuatu selain diriMu yang bisa membuatku kehilangan arah.
Tuhan, apa kau ingat? Aku tidak mengenal Aku yang sekarang. Karena Aku yang sekarang mulai lupa, mulai goyah.

Sebuah pertemuan adalah takdirMu yang tak pernah seorang pun tau.
Aku pun yakin bahwa hadirnya merupakan takdir yang harus ku hadapi walau aku tak mau.
Aku mulai yakin bahwa ia untuk ku, dan aku mulai berharap bahwa kelak ia milikku.
Lalu aku mulai tersadar bahwa Kau lah penulis naskah kehidupan terbaik, sedang aku hanyalah pemain yang harus terbiasa menanti dan menunggu.

Aku mulai berdoa, jika memang ia yang terbaik untuk ku maka dekatkanlah.
Aku berdoa lagi, jika memang ia untuk ku maka permudahlah.
Aku berdoa kembali, jika memang bukan ia maka buang rasa harap ini dan jauhkanlah.

Lalu Kau jabbah semuanya, Kau jauhkan aku dengannya.
Tapi apa Kau lupa? Bahwa doaku ada dua.
Ia telah jauh, tapi harapku masih menetap dan membuat luka.
Tuhan, jika boleh ku pinta satu hal lagi, aku dengan tulus berdoa...

Jika memang ia telah memilih pergi, tolong pastikan ia tidak sendiri lagi...


Selasa, 18 September 2018

Parenting #1 observing mymom about how to be good parent




Saya besar dan tumbuh dalam didikan orangtua yang Alhamdulillah luar biasa. Ibu saya seorang guru yang sekarang menjadi ibu rumah tangga karena suatu alasan.
Tumbuh dalam kasih sayang ibu adalah hal yang saya selalu syukuri dari kecil sampai sekarang. Jika ada yang bertanya siapa orang yang menjadi role model saya, saya akan cepat menjawab “Ibu saya”, kalau ada yang bertanya jika diberikan satu kesempatan untuk menjadi orang lain, saya akan menjawab “Ibu saya”, jika ada yang bertanya mengapa saya ingin menjadi guru padahal gajinya sedikit, saya akan menjawab “Saya ingin seperti ibu saya”.

Iya...sebegitu besarnya dampak sosok seorang ibu dalam hidup saya. Dan saya akan bercerita mengapa beliau mempunyai pengaruh yang besar dalam membentuk pribadi dan masa depan saya.

   1.Beliau tidak pernah meminta tolong sesuatu kecuali dia benar benar tidak bisa mengurusnya sendiri.
Suatu hal biasa jika seorang anak turut membantu ibunya dalam mengerjakan tugas-tugas di rumah. Namun bagaimana caranya membuat anak sadar secara sendirinya untuk membantu tanpa harus disuruh?
Ibu saya berpegang teguh bahwa dia tidak akan menyuruh anaknya untuk hal-hal yang masih dapat ia urus sendiri. Tapi tahukah kalian bahwa cara ini ternyata lebih berhasil membuat saya mempunyai kesadaran untuk membantu tanpa diminta.
Alasan terutama mengapa saya membantu karena saya mengamati ibu saya mengerjakan segala seuatu sendirian walupun ia begitu lelah, saya kasihan dan timbul kesadaran bahwa ibu bukan satu-satunya orang yang bertanggung jawab dalam urusan RT, kedua, saya merasa dihargai jika membantu ibu, karena beliau selalu memuji atau mengucapkan terimakasih setelah saya membantunya.
Mungkin terkesan sangat klise, tapi percayalah bahwa menyuruh anak dengan cara berteriak dan memarahi mereka untuk membantu tugas di rumah, membuat anak semakin tidak ingin membantu karena merasa menjadi beban atau tidak dihargai.

   2. Beliau mengatakan “tolong”, “maaf” dan “terimakasih”
Tahukah anda bahwa ketiga kata diatas adalah kata-kata yang sederhana namun paling susah diungkapkan? itulah mengapa kata-kata tersebut disebut kata-kata ajaib karena melalui kata-kata tersebut, seseorang dapat merasa dihargai, dianggap keberadaannya dan merasa istimewa.

   3. Beliau memperlakukan anaknya sebagai teman, sahabat, dan guru.
Beliau mengerti bahwa seyogyanya anak usia bayi sampai sd adalah usia dimana anak diperlakukan sebagai raja yang apa saja harus dituruti, smp anak diperlakukan seperti teman yang dididik seperti militer yang diberikan berbagai peraturan, dan sma  sampai dewasa, anak diperlakukan seperti sahabat.
Alasan mengapa saya, adik dan kakak saya lebih dekat ke ibu karena beliau memperlakukan kami sebagai seorang sahabat. Beliau mendengarkan cerita kami, menyukai apa yang kami sukai dan memberi solusi terhadap masalah-masalah kami sekecil apapun, bercanda dengan kami dan tidak segan mencubit, memukul atau menjambak saat bercanda. Tapi hal itulah yang membuat kami nyaman menceritakan apapun ke beliau karena beliau seperti sahabat.

   4. Beliau tahu kapan harus tegas, marah, atau bercanda.
Seperti yang saya jelaskan di poin 3, bahwa beliau memperlakukan anaknya seperti sahabat dan bercanda-canda. Namun bukan berarti beliau tidak tegas dan tidak pernah marah terhadap anaknya. Beliau akan marah bila anaknya melakukan kesalahan, namun semarah apapun beliau, ia tidak pernah berkata kasar/meninggikan suaranya/main tangan. Ketika beliau marah, beliau membuat anak-anaknya berpikir bahwa yang mereka lakukan memang salah, sehingga marahnya beliau tetap membawa manfaat bagi anaknya bukan hanya sekedar angin lalu saja. Beliau tidak terlalu sering marah karena beliau percaya bahwa “Semakin orang tua banyak menasehati/memarahi anaknya, maka anaknya akan menjadi kebal saran (tidak mendengarkan sama sekali)”

   5.Beliau pantang membanding-bandingkan
Ketika beliau marah, beliau tidak pernah membandingkan anaknya dengan anak orang lain atau dirinya. Beliau mempunyai pandangan bahwa membanding-bandikan orang lain adalah hal yang tidak dewasa & tidak bertanggungjawab, karena semua anak itu berbeda, mereka mempunyai kelemahan dan kelebihan masing-masing yang tidak bisa disamaratakan.

   6. Beliau cerdas
Mempunyai ibu yang cerdas merupakan suatu keuntungan, karena kata-katanya akan lebih mudah dipercaya dibanding dengan mengandalkan “kata orang” saja. Beliau dapat menjadi guru konseling anaknya, guru berbagai macam pelajaran dan pastinya membuat anak-anaknya juga cerdas seperti beliau.

   7. Beliau problem solver terbaik
Saat sedang ada masalah keluarga, beliau menyelesaikannya tanpa melibatkan emosi (re: marah, kesal yang bisa memperkeruh suasana), sehingga masalah dapat terselesaikan dengan baik dengan suasana yang baik pula.

   8. Beliau mengerti tentang psikologi anak
Karena memang beliau lulusan keguruan, dan mempunyai pengalaman mengajar di SD cukup lama, sehingga beliau mengerti tentang psikologi anak-anaknya. Contohnya: ketika pulang sekolah, jika ada hal yang ingin ia sampaikan/tanyakan, beliau akan menunggu sampai anaknya beristirahat sebentar, makan, dan lain-lain. Karena beliau tau saat pulang sekolah anak dalam keadaan lelah fisik dan mental sehingga menanyakan sesuatu apalagi memberikan teguran bukan hal yang tepat untuk dilakukan. Contoh lainnya adalah beliau tidak memotong pembicaraan karena beliau mengerti bahwa memotong pembicaraan adalah hal yang egois, contoh selanjutnya ketika mood anaknya sedang tidak baik, beliau akan memberikan waktu sendiri untuk anaknya, saat moodnya sudah membaik, beliau baru bertanya apa yang terjadi.

   9. Beliau menghargai setiap urusan pribadi anaknya
Mempunyai anak-anak yang sudah beranjak dewasa berarti harus siap untuk dinomer duakan, mungkin ini adalah prinsip ibu saya. Beliau tidak pernah menuntut anak-anaknya untuk menyediakan waktu untuk beliau karena beliau tau bahwa anaknya mempunyai urusan pribadi masing-masing yang lebih penting daripada di rumah. Beliau akan mengizinkan anak-anaknya untuk sibuk di luar seperti organisasi, acara kelas, atau sekedar reuni sekolah.

  10. Beliau tidak menyuruh, melainkan memberi contoh
Poin nomer 10 ini adalah yang palingggg saya kagumi dari ibu saya. Daripada harus menyuruh beliau lebih suka memberi contoh. Prinsip beliau adalah jika guru itu di gugu dan ditiru, maka orang tua seharusnya juga demikian. Karena pada hakekatnya orang tua merupakan seorang guru bagi anak-anaknya.
Misalnya beliau selalu sholat tepat waktu dan membaca qur’an selepas magrib, beliau mengucap salam ketika pergi dan pulang ke rumah, beliau tidak pernah membiarkan rumah berantakan, beliau selalu memberikan energi positif ke keluarganya seperti selalu terlihat bahagia, beliau tidak segan menyapa tetangga atau bahkan menyapa orang yang belum beliau kenal. Hal-hal sederhana seperti itu nampaknya memberikan efek yang luar biasa terhadap terbentuknya kepribadian anak-anaknya terutama saya.

Dari beliau saya sadar bahwa untuk menjadi guru yang baik ada sekolah dan ilmunya, tetapi untuk menjadi ibu yang baik tidak ada sekolahnya namun bukan berarti tidak ada ilmunya. Ilmu mendidik anak yang baik dan benar bisa didapatkan dengan cara sering membaca buku tentang parenting dan psikologi anak serta pentingnya sharing tentang parenting ke orang-orang yang mengerti tentang anak dan keluarga.
Karena percayalah, “berhasil” atau tidaknya seorang anak, tergantung bagaimana cara orangtua  mendidik mereka sedari kecil.

Jumat, 26 Mei 2017

Short Story- Visible Wealth




A pacifying sound  morning alarm, bird’s sound, made me woke up earlier today. Suddenly, I realized that tomorrow is Ramadhan and I jumped from my bed and opened my cupboard in a hurry to take a jacket, hijab and trousers. Then, I opened the door and  ran away from my room but I slipped my leg on the floor, between the crack of ceramic in which my leg a little bit unbalanced and I almost fell. Everyone in the living room  laughed at me, then I was trying smile to them ashamedly.

“What makes you in hurry, dear? You have to wash your face, I don’t think you have already woken up” Umi said.
“Hehe Umi, I don’t need to wash my face, I want to meet teh Meli right now, I can’t wait for this, seriously. But it won't take long time, I promise. I just want to tell her that Ramadhan is comeback!”
Umi was just silent with no expression in the corner of the room.
“So unfair! I’m also your older sister. Why don’t you tell me about that too?” said teh Fida who broke the silence and tried to tease me.
“What for? You have already known, teteh. Assalamu’alaikum everyone, I will comeback as soon as possible!”.
                                                                           ***
I got out from the house with a bit running and went to teh Meli’s house by my own. I thought about everything happened in the Ramadhan last year along the way. When I spent my Ramadhan so far away from my house, I preferred having iftar with my friend than myfamily. At that time, I went home rarely because I was so busy and had a bigger fish to fry in the out side. I had a reason for that. I liked being a busy person with so many responsibilities in my youth. I thougt I could spend my time with Umi, Abah, teh Meli and teh Fida later, ya… later. Because I was sure that they would understand.
                                                                            ***
Arriving at teh Meli’s house, it was very clean and fragrant. I was looking for the source of fragrant that I smelt around the house, oh I found it! It's because there are so many flowers around the house.

“Assalamu’alaikum teh, are you still slumbering in your house? It is very fragrant. Woaaa, you impressed me! By the way, wake up teh! Tomorrow is Ramadhan, we have to prepare our self for that." I said it slowly with a bit whispering.
"You have to help Umi to buy something in the market for supplies along Ramadhan, don't you? It's like what you did last year. I will help Umi cooking and preparing food for having iftar and saur." I said it loudly but she was still silent.

"for now on, I will be nice to teh Fida although she disturbed me as usual, like you ever said to me that we were siblings so we had to always loving each others. I will prove it teh, I promise. After that, I will accompany Abah to stay up all the night like you usually did." I kept talking in front of her house with hope she would immediately wake up .
"Teh, I was wondering why you wouldn’t  wake up although I had already promised that I would give my time to family in this time. Are you angry with me? What should I do?" 

I had no word to say anymore, no matter how hard I pushed myself to keep calm and continued talking but I always end up with the same condition, felt hurt.
In fact, I still felt like there was something beaten my heart and made it bleeding until now. I was in pain. I wanted to scream all the time because I got a nightmare everynight. I just wanted to see her, to stop my pain.

"Teh, everyone is really happy welcoming Ramadhan, so do I. But do you know what is the grievous thing about it? Knowing that Ramadhan is comeback, but you don't

                                                                               ***
I laid my head back down and I lifted my hands and prayed her. I swore, I would give my time and more attention to family right now. From her, I realized that the precious things in this world were not how famous you are or how high your position is. But it's about how you could give your time with family in your busy time. Your family is your visible wealth. Keep it. Don’t say I will give time to family later because later become never sometimes.

I said good bye to her and walked out from her house, I meant, her grave...






Minggu, 09 April 2017

Kejadian aneh di instagram #2


Keanehan terus berlanjut…

Suatu hari terlintas wajah ayah dalam pikiran saya.
Ayah yang sudah tua, sakit-sakitan dan mulai melemah raganya. Saya mulai berfikir, saya jarang berdoa untuk beliau, padahal ayah selalu berdoa untuk saya, berharap saya selalu sehat dan mendapat yang terbaik. Saya sedih sekali sekaligus terluka, untuk 2 menit berdoa setelah sholat untuk orang tua saja tak mampu, dan baru sadar kalau saya benar-benar miskin sejadi-jadinya, karena lemah akan iman.

Saya jarang dirumah karena sibuknya aktivitas kuliah, ngajar, organisasi. Pulang kerumah bisa dihitung jari dalam seminggu, beliau sakit saya masih sibuk di kampus, beliau kesepian sedangkan saya sibuk main dengan teman, ketika dirumah, beliau masak saya jarang makan karena sering memilih milih makanan (Ayah yang menjadi kepala keluarga sekaligus ibu bagi saya setahun terakhir ini, karena saya dan mama tidak satu rumah lagi oleh karena itu beliau memasak, menyiapkan keperluan saya menggantikan mama), sampai pernah saya memergoki kalau ayah sedang memandang masakan yang tidak saya makan dengan raut sedih.
Pada hari itu, zalim kedua saya, yang saya sadari.

YaAllah hati rasanya sakit sekali, seperti diremas…
Lalu saya mulai menangis terisak sepanjang malam, di usia yang sudah kepala dua saya masih menyusahkan beliau. Saya merasa gagal dan tidak bermanfaat bagi beliau. Sampai tiba-tiba teringat buku yang pernah saya baca  tentang seorang wanita yang menyeret ayahnya ke neraka karena tidak memakai jilbab. Setiap helai dari rambut yang terlihat oleh orang lain, maka dosanya bukan hanya pada milik wanita itu tetapi ayah, dan saudara laki-lakinya juga berdosa. Tetapi saya masih tenang saja, karena berfikir toh saya sudah berjilbab, jadi ayah dan adik saya tidak ikut menanggung dosa.
Setelah lelah menangis, saya mencari penghiburan di dunia maya, yakni instagram.

Keanehan kedua pun dimulai….
Muncul video yang menarik di explore instagram, entah rasanya jari saya tergerak untuk memutar video tersebut. Video itu adalah video ceramah seorang ustad, lagi-lagi seorang ustad.
Dalam videonya, beliau mengatakan bahwa “Apakah kamu sudah menggunakan jilbab dengan benar? Atau yang kamu gunakan bukan jilbab, tetapi sesuatu untuk membalut aurat dan membuatnya semakin jelas terlihat?” Deg! Hati saya deg-degan sangat kencang, dan saya yakin ini bukan deg-degan karena cinta (Hehe bercanda dulu)

Keesokkannya saat akan pergi ke kampus, saya berkaca dan memperhatikan bagaimana cara saya berbusana selama ini. Saya memperhatikan betul dari atas sampai bawah, saya memakai jeans yang ketat, kaos panjang yang tipis dan pendek sepinggang, jilbab yang tidak menutupi dada, dan tidak menggunakan kaos kaki. Trend busana masa kini sekali.
Saya lemas, ternyata gaya busana saya selama ini bukanlah busana yang islami, karena jilbab yang saya kenakan belum menutupi dada, dan pakaian yang saya pakaian belum panjang bahkan bisa dibilang “hanya membalut aurat”.
Saya teringat video itu, dan mulai kembali sedih. Inikah balasan saya terhadap ayah? Membuat dosa setiap kali saya melangkahkan kaki keluar dari rumah dan memamerkan aurat yang terbalut pakaian masa kini? YaAllah…
Saya enggan menyakiti hati beliau lagi, saya enggan membuat beliau masuk neraka gara-gara saya. Saya bertekad untuk berubah sedikit demi sedikit.

Saya yakin Allah akan membantu setiap orang yang mau berubah, menjadi muslimah yang sebenarnya.

                                    Ayah

To be Continued


Kejadian aneh di Instagram



Assalamu’alaikum ukhti sholihah, InsyaAllah kita semua selalu dalam perlindungan-Nya Aamiin. Kali ini saya akan bercerita tentang kejadian aneh yang saya alami di instagram.
•••
Saya suka sekali main instagram, melihat foto-foto orang lain yang bagus, video-video lucu yang menarik, sampai foto dan video yang sedang viral.
Kejadian aneh ini saya alami pada kurang lebih 1 bulan yang lalu, saat sedang berkelana di instagram saya menemukan video ceramah seorang ustad (Saya lupa namanya).
Saya putar videonya dan saya benar benar terpaku saat itu. Speechless. Bukan karena parasnya (Saya bahkan lupa seperti apa parasnya), bukan pula karena pakaiannya (yang saya ingat pakaian yang beliau pakai sangat sederhana).
Tetapi karena tutur bicaranya. Singkat. Padat. Menusuk hati.

Dalam isi ceramahnya beliau mengatakan bahwa “Tidak ada doa yang tidak dikabulkan Allah. Maka perbanyaklah doa, dan berkatalah yang baik karena sesungguhnya perkataan juga sebuah doa”
Beliau juga mengatakan bahwa “Kalau ada yang nanya kapan ini kapan itu, jawab yang tegas! Jangan cengengesan. Ini ditanya kapan umroh, cengengesan dengan alasan seribu macam, apalagi ditanya kapan nikah, bilang belum ada yang cocok stad, belum siap stad. Langsung saja jawab dengan tegas, tahun depan saya umroh, tahun depan saya nikah insyaAllah!”

Dalam hati, saya sempat mengiyakan. Loh iya juga….  Selama ini kalau ditanya kapan ini itu jawabnya selalu kemana mana, pantas saja saya masih begini hehe
Saya malu sendiri, sombong sekali saya jarang berdoa…
dan nyesek sendiri, jahat sekali saya berbicara hal-hal yang buruk terhadap orang lain padahal semua yang keluar dari mulut seseorang adalah sebuah doa.

Saya benar-benar tertampar melihat video itu, mengingat betapa banyak hal-hal yang sia sia keluar dari mulut saya.
Dari kejadian aneh itu, timbul niat dari hati saya, yaitu “Berkata yang baik atau diam”.

To be Continued

Rabu, 04 Juni 2014

LEG NAY MERU-El-quera




Mempunyai ikatan didalam ruangan kecil yang sebagian orang menyebutnya “kelas” ini membuat ku semakin tertekan, satu tahun aku disini, di kelas ini, diskolah ini dan di bangku reot pojok kiri paling depan ini… Sialnya aku terjebak di kursi paling depan, sebagai anak pindahan aku tidak mempunyai banyak pilihan dan waktu untuk mempersalahkan hal kecil semacam ini, yang ku lakukakan? menjadikan tempat duduk ku zona pribadi ternyaman buatku . ya. setidaknya aku punya tempat untuk merasa nyaman.
Selain tempat duduk? tidak ada yang aku sukai dari sekolah ini.

Teman temannya? terdengar lucu sekali, mereka semua memuakkan, mereka lebih suka menggunakan topeng saat berkomunikasi, hidup mereka seperti drama… iya drama dan sialnya, aku hidup dilingkungan orang orang yang bangga dengan topengnya

Percuma aku menuntut pindah, disekolah yang baru aku rasa akan sama saja, tidak ada yang istimewa, dan aku yakin papa dan mama tidak akan mendengarkan, lebih tepatnya tidak akan peduli.

Aku pindah di sekolah ini satu tahun yang lalu, saat Ibu memacari pria muda dan kabur dari rumah, saat papa mengahabiskan uangnya untuk membayar wanita-wanita muda untuk menemani hatinya yang sepi.
Yayaya… hancurnya kisah cinta orang tuaku. Itu adalah salah satu alasan mengapa aku tidak akan pernah percaya “cinta” . Bagiku, cinta tidak pernah ada.

Mengapa semua orang repot saling mencintai kalau akhirnya cinta itu bisa pudar, bisa kadarluarsa dan akhirnya berujung perceraian. Klasik.

 Aku memutuskan untuk bertahan di sekolah ini, entah apa itu alasan terkuat kenapa aku mau bertahan, aneh sekali.. aneh, aneh seperti sekolah ini dan orang-orang yang menghuninya..
Tinggal enam bulan aku berada diskolah ini, senang rasanya bisa terbebas dari jeruji besi yang mereka sebut sekolah. Mereka bilang masa putih abu-abu adalah masa terindah. Rupanya itu tidak berlaku untukku.

Rutinitasku di sekolah? Aku hanya sibuk bermain dengan handphone di bangku zona nyamanku mendengarkan musik rock sekencang-kencangnya menggunakan earphone dan memakan berbungkus bungkus jelly candy yang selalu aku bawa dari rumah, no one will disturb me, I bet.

Tapi, hentakkan kakimu membuat konsentrasiku terganggu
kau berlalu lalang didepan ku semaunya saat aku menikmati ketenangan yang tidak aku dapatkan dirumah.

Dasar wanita aneh, fikirku
lamunanku seketika sirna, saat ku dengar saat ada orang yang meneriaki ku
“halo? budek ya? gue mau lewat! dan lo nutupin jalan gue untuk masuk kelas….”
astaga ini cewek mulutnya bawel bener, dalam hati ku berbisik.
Tanpa berkata apapun aku langsung meninggalkan wanita itu, karena malas meladeninnya
dan bodohnya aku baru menyadari bahwa wanita itu teman sekelasku, namanya El.
Elquera. 

Cewek aneh, yang bawel, galak, jutek, sinis.. idiw ga ada bagus bagusnya kalo dipikir pikir
aku terus berjalan dan entah sengaja atau tidak, aku menabrak bahu cewek aneh itu sampai dia terjatuh.
“mau lo apa sih dir? lo dendam sama gue, iya? tadi lo nutupin jalan, sekarang lo nabrak gue sampe jatoh!  lo jadi cowok kok nyebelin banget”
“sorry……” kataku sambil bergegas menuju pintu kelas dan. meninggalkan Elquera yang masih bengong mencerna kata kataku dan aku berbalik lagi untuk menyelesaikan kata kataku saat El masih berdiam dengan polosnya.
“lagian itu badan apa kapas, disenggol dikit langsung terbang..” kataku tanpa ekspresi dan langsung buru buru meninggalkan kelas.

Ku dengar El berteriak di belakangku, entah apa yang dia katakan, kedua telingaku sudah tergantung earphone dengan lagu yang kuputar dengan volume cukup keras

Kau membuat hidupku berantakkan, sejak kita dipertemukan hidupku seolah tidak lagi tertata.
Suasana kelas terasa memuakkan semenjak  kau duduk disebrang barisan, pandangku selalu tidak sengaja tertuju, entahlah.. akhir-akhir ini fokusku sering terbagi karena….. ah tidak mungkin.
Kau aneh el, aneh.
“dirga! dirga I talking with you, god!”suara Vera mengisi seluruh lorong sekolah di depan kelas.
Aku tidak menyadari sedari tadi Vera berbicara padaku, entah dari kapan tiba-tiba dia sudah disampingku sambil merangkul tanganku. Vera wanita tercantik disekolah kata mereka, menurutku biasa saja, dia seperti mereka, tidak berbeda, dan aku tidak tertarik sama sekali walaupun ia terus ingin berada disampingku.Aku selalu menghindarinya karena menurutku, ia terlalu berisik. Dan terlalu "sama".
“sorry ver, gua buru-buru....” sambil melepaskan tangannya dari tanganku dan bergegas kembali ke kelas
“ga! dirga tunggu! gue belum selesai ngomong!”

Vera terus saja berteriak, tapi aku tak peduli , aku meninggalkannya dan terus berjalan tanpa sadar kembali ke kelas, namun tanpa sengaja tatapku tertuju pada tempat duduk kedua disebrang pintu itu, 
ah El! aku cukup lama memperhatikannya dalam detik, begitu  ku tersadar, aku masih saja tidak mengerti… sejak kapan seorang freak girl seperti Elquera bisa sukses menyita tatapanku?

aku mengurungkan niat untuk masuk ke dalam kelas, dan memustuskan untuk membeli sebuah minuman soda di kantin,
“ga…”
“kenapa?” suara El ternyata, belum selesai ku menghabiskan minumanku, ku lihat matanya berkaca kaca
“…..”
“lo kenapa el ?! lo sakit? ” astaga gua ngomong apa barusan, “lo sakit?” sejak kapan gua peduli sama ini cewek, fikirku dalam hati
“lo janji ya… jangan bilang ini ke orang-orang”
“mending kita duduk ditaman, dikantin banyak orang ga enak gua disangka yang buat lo nangis”
Aku melihat El tertawa kecil di sela tangisnya yang semakin terdengar samar. Dan tidak sengaja aku menatapnya lebih dalam lagi. lagi…

*taman*

“lo kenapa?”
“lo tau ga dir, kenapa bunga bunga ditaman itu berwarna warni?”
“ya karna waktu nanemnya bibit bunganya beda bedalah”
“Pikiran lo pendek banget sih dir, ga tau arti kiasaan ya!” kata El sambil tertawa
kali ini tawanya berbeda, terlihat ketulusan dan kelembutan yang terkandung dalam tawa kecilnya.
dan astaga entah perasaan apa ini, ada sesuatu yang berbeda saat melihat El tersenyum, seperti getaran sejuk aneh yang mendesir dalam hati……. ah sudahlah
“bukan ga, mereka berwarna warni karna tuhan mentakdirkan mereka hidup berdampingan dengan warna warna yang indah”
“hm… terus hubungan sama yang lo tangisin?”
“gue nangis karna… ehm gue ga nangis, gue cuma sedih dan hmm..”
“dan?”
“……….eh! liat deh bungan mawar itu! ya  ternyata gue ga bisa hidup kaya bunga bunga itu, bewarna-warni, berdampingan, mereka indah karena mereka hidup bersama sama, mereka saling mengisi, dan smua kelihatan indah karna saling mengisi kekurangan”
“maksud lo el?”
“pernah gak sih lo memposisikan diri lo sebagai bunga… hmm bunga mawar deh contohnya, dia indah tapi berduri. durinya itu melindungi dia agar tidak semua orang dapat menyentuhnya, dia berbeda.. untuk mendapatkan bunga itu bahkan seseorang harus terluka dulu karna durinya……”

El menatapku lama, dengan tampang datarnya dan sesekali menggariskan senyum kecil diwajahnya, tanpa sadar aku menatapnya lama, tanpa sadar……..
“dir?”
El  memanggilku pelan, dan aku terhenyuk dan kembali sadar, ya tuhan… aku menatapnya lagi!
“eh hmm.. enggalah, gua ga suka jadi bunga”
“terus lo sukanya jadi apa?” nada bicara El sedikit penasaran
“jadi gua. tanpa ada kata “andai” jadi siapa dibelakangnya”

El terdiam, tiba tiba segalanya hening, El sempat menatapku lama, aku menyadari dia menatapku tapi aku enggan menoleh. Ia akhirnya memalingkan wajahnya melihat bunga-bunga disana lagi, untuk sekedar memperhatikan bunga itu atau… bisa jadi ia sedang  mengalihkan perhatiannya untuk mencerna kata-kataku barusan.

Kami terdiam cukup lama. Entah apa yang salah dengan kata kataku barusan hingga Elquera itu menutup mulutnya rapat. Aku memecah keheningan dan memberanikan diri bertanya masalahnya.
“Sorry El, ada yang salah sama kata-kata gua barusan?”
“oh.. engga kok dir..hehe gapapa kok”
“Lo gapapa kan? gua mau balik, nih..” Kataku sambil menyodorkan sebungkus jelly candy.
El menerima jelly candynya dengan tatapan sedikit kebingungan dan kulihat dari mata beningnya tak ada lagi air mata yang ia teteskan. syukurlah.. untuk yang pertama kali aku bisa memikirkan orang lain lagi selain diriku.
Akhirnya..

***

“Thank you for your kindness yesterday. Finally, I can see something without using my eyes”

Surat kecil itu terletak diatas meja kelasku bersama sekotak bekal, aku membacanya berulang-ulang… Ah tidak salah lagi ini adalah El.
Aku membuka kotak bekal itu, dan isinya adalah nasi goreng dengan sosis dan baso yang dipotong kecil-kecil.. cara yang manis untuk berterimakasih rupanya. Dan sekali lagi tanpa sadar, aku mengulum senyum.

*To be continued*