;http://downloads.totallyfreecursors.com/thumbnails/sweden.gif Nurlailie Zhafirah

Senin, 28 April 2014

Kertas dan pena



Malam ini, aku memutuskan untuk bersantai sejenak mendinginkan pikiran dan hati yang sedari pagi menjerit menuntut haknya untuk beristirahat. Menyingkirkan segala hal yang berhubungan dengan kuliah. Entah itu tugas kuliah, urusan kuliah, buku buku cetak kuliah, organisasi dll.

Tapi aku tidak menyingkirkan sebuah pena dan kertas yang ada diatas tas yang biasa aku pakai untuk kuliah, aku melihat dan akhirnya mengambilnya iba karena mereka terus melambai seakan berbicara padaku :
“kemarilah wahai sayang… bagilah kisahmu diatas badanku, dan sahabatmu, pena,  akan membantumu mewarnai tiap kisahmu dibadanku agar kisahmu ini dapat kekal, dan tidak hilang daripada kau menyimpannya didalam memori ingatanmu yang kian hari makin merapuh. Dan lewat tulisanlah segala yang kau fikirkan terkesan lebih nyata dan hidup”

Hampir seperempat jam aku berfikir, terdiam, dan meratapi sebuah kertas dan pena yang kini sudah ku pindahkan diatas meja belajar bidang yang terletak di pojok kamar. Aku mencoba menulis satu kata namun mengurungkan niat dan meletakkan kembali sebuah pena yang ku genggam seperempat jam tadi ditangan kanan.

Apa yang harus aku tuliskan? aku hanya tidak ingin melakukan apa apa saat ini. Aku berfikir lagi. Lagi lagi aku dipaksa berfikir.
Apakah kertas dan pena ini pernah merasa bosan? atau pernahkah mereka berontak dengan apa yang dikaruniai Tuhan terhadapnya? karna ditakdirkan untuk menjadi sebuah benda? sebuah benda mati yang bahkan kadang manusia tidak benar benar mau menggunakannya secara benar. Kadang diperlakukan tidak layak, dan tidak ada harganya.

Oh, iya… apakah mereka juga punya hati seperti manusia? apa mereka bisa menangis? mereka perlu makan? sharing? tidur? atau mencintai seseorang? apa mereka perlu? atau memang butuh itu semua?

Entah pertanyaan macam apa yang barusan melayang layang dipikiranku.
Entah katagori aneh tingkat berapa seorang aku yang berbicara lewat kertas, berharap kertas menyampaikan kepada pena lewat sapuan semilir angin dan mereka saling berinteraksi untuk menyelesaikan masalah jenuhku yang tidak mendasar.

Kadang berbicara lewat pena dan kertas terkesan lebih baik daripada harus berbicara langsung, kadang kata kata yang dirangkai pena didalam kertas, tersurat lebih menggores makna daripada harus membuka mulut untuk langsung menyampaikan kata.

Akhirnya aku punya sesuatu untuk dituliskan diatas kertas yang sedari tadi setia menungguku membagi kisah untuk menjadi bagian dalam kisahnya.
Akhirnya aku punya sesuatu juga untuk ku sampaikan melalui pena yang sedari tadi meluncurkan kode agar aku segera memegangnya dan seakan berkata “biarkan aku saja yang mewakilimu berbicara”.
Aku menuliskan cerita lama yang kini tidak sengaja kutemukan lewat media modern pengganti buku, yaitu laptop.

Sore tadi, aku melihat sekeliling dan kedua mataku menyorot  sebuah benda di pojok meja kamar yang terletak begitu saja. Aku melabuhkan pilihanku pada laptop berharap ia bisa mengobati jenuhku.
Aku mencari tiap aplikasi aplikasi tak sengaja aku membuka pesan pesan masuk yang ada tersimpan dalam memory card di laptopku.
Aku membacanya satu demi satu berharap tak ada yang terlewat. Kadang aku membaca berkali kali mencoba mengingat apa yang dibicarakan dan bagaimana keadaan saat itu,
Betapa asiknya saat dulu perbincangan yang diangkat dari tema sederhana pun kadang memberi kesan yang membekas.

Bukan hanya sekedar membaca aku juga terhanyut untuk mendalami tiap kata yang tersirat selalu ada makna dalam kata, ya.. memang ada. Ada kalanya saat beberapa pesan yang kubuka begitu menggelitik, membuat ku tak kuasa memecah sunyi ruangan kamar dengan tawa, dan ada pula ketika kutemukan sebuah pesan yang membuat dadaku merasa sesak dan seperti ada sesuatu yang memcekik leherku saat membaca.

Seperti dipaksa kembali mengingat masa dulu,seperti dilempar ke masa lalu.
Aku lupa pernah sedalam itu, atau tepatnya aku lupa pernah sedekat itu
ada rindu yang berpadu dalam diri saat mengingat saat dulu yang begitu hangat, sangat hangat.
Ada rasa bersalah yang menyerang bertubi tubi disaat yang sama begitu merindu.
entah aku yang salah atau mereka yang belum bisa paham…

Saat aku menyadari, itu hanyalah sebuah pesan dulu, yang masih tersimpan. Hanya pesan. Dan orang-orang yang mengirim pesan itu telah memilih pergi satu persatu. Mungkin salah satunya karena dinginnya sikapku atau egoku yang membuat mereka pergi
Ataukah ketakutan ku? aku tau tapi aku takut.
Mungkin salah satu alasan kenapa terus bermain dalam zona nyaman adalah karena aku terlalu takut.

Aku takut memuja makhluk ciptaan-Nya lebih dari memuja-Nya aku takut menduakan cinta-Nya. sangat takut. Aku takut membuatnya cemburu, aku takut melukai hati-Nya.
Kadang aku memerlukan tuntunan, aku perlu seseorang yang bisa mengajakku mencintai-Nya bersama sama dengan caranya sendiri. Dan memerlukan seseorang yang setiap aku melihatnya aku ingat kepada-Mu, aku selalu taat kepada-Mu. Tidak mengabaikan perintah-Mu dan kewajiban ku sebagai seorang muslimah.

Aku pernah menemukannya, menemukan sosok seperti itu. Namun akhirnya pergi, karna mungkin terlalu lama dan ia memilih singgah kelain rumah. Hati yang biasa kusebut rumah.
Namun ada seseorang yang biasa, bahkan ketika shalat pun masih sering tertinggal, dunianya bukan duniaku. Kebiasaannya bukan kebiasaanku. Aku telah menjelaskan prinsipku.
Namun ia masih tinggal, untuk sekedar bersahabat, mungkin itu yang kita sepakati sekarang, 
Namun nyamanku sudah menjadi miliknya entah dari kapan. Dan aku berusaha menutupinya.

Boleh jadi kamu membenci sesuatu padahal ia amat baik bagimu dan boleh jadi pula kamu menyukai sesuatu padahal ia amat buruk bagimuAllah mengetahui sedang kamu tidak mengetahui” Qs. Al-Baqarah : 216

Kertas itu sudah penuh dengan goretan huruf yang kutuangkan didalamnya, ada sesuatu hal yang terlepas dari fikiran dan hati kecilku saat aku menuliskan, tidak lagi merasa sesak atau pun gelisah.
Kulihat kertas itu sedikit berair, apa dia menangis mengetahui kisahku saat kutulis diatas badannya?

Begitupun pena, tintanya semakin berkurang ketebalannya. Apa dia tidak tega mendengar kelanjutan kisahnya?
bahkan kertas dan pena mengerti. Dan tentu Ia-Iah yang paling mengerti, saat lantai dan sajadah menjadi saksi ku mengadu tiap malam panjang di sepertiga malam.
Keraguan akan muhabbah masih tetap ada namun lebih berserah kepada sang pencipta muhabbah dan selalu berhusnuzon, bahwa tak ada keraguan ketika Ia telah menggariskan, mentakdirkan, ketika telah saatnya.. muhabbah pasti datang dengan cara yang tidak dapat diduga.


Selasa, 07 Januari 2014

Lebih dari sekedar..


Ada sesuatu yang lebih sulit dikatakan daripada kata
Sulit di suratkan daripada sekedar tulisan
Sulit dijabarkan daripada soal matematika

Ini bukan sesuatu yang mudah untuk disentuh
Tidak mudah pula untuk di rasa apalagi diraih
Karna, ada kehangatan yang menusuk saat merasa
Terdiam tanpa kata

Tidak semua orang memilikinya, hanya orang-orang yang mau “percaya”
Percaya pada.. ada kekuatan yang bisa menjadi penyembuh luka dan sakit tanpa obat
Kekuatan yang menjadikan si lemah menjadi kuat
Si kuat menjadi lemah
Si pintar menjadi bodoh
Dan si bodoh menjadi pintar

Dia punya mata, tapi tak hanya melihat dengan mata
iya! dia juga punya telinga, tapi dia tak hanya mendengar lewat telinga
Karena kekuatan itu lebih besar daripada apa yang dilihat, apa yang didengar
Kekuatan yang mengalahkan logika
Mengalahkan rasa lelah memberi tanpa mengharap balas
Dan, iklas tanpa merasa sakit.
Dia tak berwujud, namun ada.

Dia adalah cinta..

Cinta..
Hanya menghampiri orang-orang yang masih ingin percaya
Masih ingin memaafkan saat terkhianati
Masih ingin bangkit saat terpuruk
Masih ingin percaya saat dibohongi
Masih ingin.. masih mau..

Oh cinta… begitu banyak penafsiran tentangmu
Dan yang aku tahu hanya..
Kau lebih dari anugrah
Anugrah yang diberikan Tuhan sebagai fitrah seorang manusia.
Yang harus dijaga, dijaga dan dijaga..

Kau lebih dari sekedar kata
Dan aku pun percayaya bahwa...
Semua orang pasti mengerti rasanya, saat mereka “memilikinya juga”

Minggu, 15 Desember 2013

“Puisi Untuk Ibu”




Senyum itu...
Sepertinya tak pernah sirna dari wajahmu
Senyum yang kau goreskan di wajahmu untuk menyembunyikan segala rasa letih dan lelah yang menghinggapi setiap hari
Tapi… letihmu, lelahmu seakan tak mampu mengalahkan kuatmu, Ibu
Kesal, marah, bantahan terlampau sering kami luapkan kepadamu

Tapi engkau, Ibu..
Tak pernah marah, tak pernah benci kepada kami, anak anakmu
Anak anakmu yang kadang terlalu sering membuat hatimu sakit
Membuat kau menangis karena tingkah kami yang begitu tidak dewasa

Tapi, Ibu…
Hatimu terlalu putih, terlalu tulus mencintai kami
Tanpa mengharap balas, tanpa mengeluh dan mengharap apapun itu
Cinta dan kasih mu bagai air yang mengalir,
Bagai sinar mentari yang tiada letih menerangi

Kau adalah semangatku, Ibu
Kau adalah alasan mengapa aku harus terus berlari mengejar asa
Kau adalah orang yang paling aku sayangi, walau kadang bibir tak mampu mengucap

Terimakasih Ibu, untuk segalanya, untuk rasa sayangmu yang tak pernah putus
Terimakasih aku siratkan dalam sebuah tulisan walau hanya sekedar puisi
Puisi untukmu, Ibu.. tercinta.

Rabu, 16 Oktober 2013

Seikat Mawar Putih dari Sang Fajar


Hari ini, aku serasa menghirup udara yang segar dan bersihnya. seperti rasanya hari kemarin.
Bersama bebauan harumnya bunga bunga di taman yang bewarna warni.
Bewarna warni sepeti hariku saat kita bertemu.

Hm… sudah hampir 7 bulan ya semenjak kamu ada.
Dan hariku bagai istimewa dibuatnya.

Bukan…
Aku dan dia hanya pertemanan biasa.
Dan semua orang mungkin melihatnya berbeda.
Dia selangkah lebih maju dari mereka, dari mereka yang hanya mengandalkan cinta tanpa tau tujuan kemana cinta akan dibawa.

Dia kelihatan berbeda, menggunakan cara yang tidak biasa untuk hal yang menurut orang sangat biasa.
Dia unik, membuat segalanya seolah tak ada yang biasa, ditangannya dan didekatnya semua seakan luar biasa.

Ini kali kedua dia memberikan ku setangkai bunga mawar putih, dan menurutku itu... manis.
Karena dia berbeda, dia unik.
Ketika yang lain membelikan aku seikat bunga mawar dari toko bunga, kau lain.
Kau hanya membawakan aku setangkai bunga mawar.

Apa yang membuatmu tak sama?

Kau menanamnya sendiri, kau beli bibit bunga itu lalu kau tanam dan rawat sendiri  dengan penuh kesabaran dan ketulusan hingga tanaman itu berbunga mawar berwarna putih yang sangat indah.

Manisnya. Perjuanganmu untuk memberikan setangkai bunga mawar itu untuk ku sangat... manis.
Mungkin wanita menganggap ini adalah hal biasa dan mungkin aneh.
Tapi aku memandangnya dari sudut yang berbeda, dari sudut dimana ketulusan diletakkan di strata paling utama.

Kau mencintai keindahan, aku juga...
Kau menghargai perbedaan, hmm mungkin aku juga..


Dan semoga tak ada kata “dia berbeda”  pada awalnya dan berakhir “dia ternyata sama dengan `yang lainnya”

Sudah 2 bulan aku tidak memberikan jawaban hubungan ini akan dibawa kemana.
Tapi kau tetap sabar dan tak menuntut banyak dariku.
Kau berbuat seolah aku tak perlu ragu dipelukmu, kau berbuat seolah kamu 
adalah nafas dan cahaya dikehidupanku.

Kau tidak sepenuhnya salah, tapi kau sebenarnya terbuat dari apa?
Setiap memandang wajahmu aku hanya bisa membisu, iya… karna aku tak bisa menemukan jawabnya, bahwa mengapa ada orang sepertimu yang begitu tulus menyayangiku dan tetap disampingku walau belum ada jawabku


Kau terbuat dari apa? yang lain mungkin akan pergi menjauh jika ku gantung hubungan seperti yang sedang kita jalani.
Kau terbuat dari apa?

Senyum mu menyejukkan setiap yang melihat, mungkin senyum mu diperuntukkan untuk semua orang yang melihat, tapi cintamu… siapa yang tahu?


Yang lain mengobral janji, bahwa mereka akan begini begitu begini begitu jika salah satu diantara mereka kujadikan pujaan hati.
Sementara kau…. tidak… aku bingung, jujur saja..

Sulit membacamu dan sulit menebak tingkahmu, seperti yang kita berdua tahu, tidak ada hari yang tampak biasa saat kita bertemu.

Bunga bunga di taman itu menjadi saksi bisu ku merengkuh malu mengakui hatiku tercuri olehmu dari entah kapan.
Dan senyum dan raut wajahmu seakan berbicara padaku, bahwa kamu akan selalu menjadi sang fajar di pagiku yang baru.


T

Minggu, 01 September 2013

GO AWAY HEY MANTAN PACAR ;D




Guys, tulisan gue kali ini tentang cara lupain mantan pacar. Pernah ga sih kalian terjebak nostalgia sama mantan pacar? pernah pasti ya^
Kalo dipikir pikir ga asik juga kali kalo si mantan udah punya pengganti kita sedangkan kitanya belum berhasil tuh buat moveon.

Banyak yang request sebenernya gue nulis ini, banyak diantara temen gue yang masih belum bisa move on. Makanya simak postingan gue kali ini yup, check this out;)

1. Bersikap biasa
Hal pertama yang harus lo lakuin adalah menjaga sikap, jangan lemah kalo ketemu sama dia apalagi kalo sampe tiba tiba nangis nangis gitu, JANGAN! stay cool, remember? yang paling utama emang kontrol diri lo, putus hubungan bukan berarti semuanya berakhir kan? kuatlah, setidaknya terlihat kuat dimata orang lain, dimata mantan yang paling utama wk

2. Dont stalk!
Please, jangan ngestalk twitter/fb/ig/othersocialnetwork dari mantan lo, ga peduli lo sekepo apa saat itu, plis jangan! karna ngestalk cuma buat lo makin kepo dan faktanya banyak dari kita yang abis stalking itu pada nyesek.
Jadi, selama memang ngestalk itu BELUM diperlukan, sebaiknya jangan coba coba stalk Tl mantan pacar ya, kasian hatimu makin merapuh:’)

3. Go away hey memories things!
Saran gue, kalo lo pernah dikasih barang sama mantan lo entah itu sesuatu yang kecil/besar, penting atau engga lebih baik disimpen ditempat yang paling paling aman! Aman dalam arti, lo simpen ditempat yang jarang lo temuin, atau tempat yang paling ga strategis untuk diliat. Alasannya biar lo ga keingetan terus sama mantan lo setiap ga sengaja liat barang dari dia.
Kalo emang itu barang ga ngeganggu lo dan lo biasa aja, it’s oke. Tapi kalo itu barang ngebuat lo keganggu dan jadi keingetan mantan terus mending singkirin dulu deh. Barangnya ga harus dibuang, tapi simpen aja rapi ditempat paling aman.

4. Cari Kesibukan
Sibukan diri dengan kegiatan disekolah/kampus/tempat kerja yang positif, ikut aktif dalam organisasi dan kegiatan sosial misalnya, atau salurkan hobi kalian! logikanya, kalo lo aktif diluar sekolah itu akan menyita banyak waktu lo, dengan sibuk kaya gitu ga akan ada waktu untuk mikirin seseorang yang sudah menjadi mantan disana.
Serius! untuk mikirin ini itu di organisasi aja udah menyita banyak waktu jadi kemungkinan lo galauin mantan akan sedikittt karna lo sibuk ngurusin urusan organisasi

5. Perluas zona pertemanan
Dengan memperbanyak teman jadinya lo lupa sama masalah lo, cause friendship is everything<3
Dan dengan banyak teman, jadi lo gak stuck di satu orang, kalo putus sama yang satu kan kali aja bisa jadi sama temen lo yang lain hehe bercanda yaaaa

6. Jangan terburu buru
Dengan status mantan yang udah punya pacar baru jangan sampe ngebuat lo terpojok dan pengen buru buru dapet pengganti juga, to show it to him! 
No! jangan. karna itu cuma obsesi lo, kasian orang yang jadi obsesi lo aja, cuma jadi pelarian. let it flow aja, jangan terburu buru, jadiin yang lalu sebagai pelajaran, supaya gak ngalamin hal yang sama di kehidupan yang akan datang.

7. Dengarkan kata hatimu
Sesungguhnya jeritan hati adalah yang paling jujur hihi dengarkan hatimu! dengarkan apa masih mau bertahan atau melepas? memaafkan atau meninggalkan?
Jangan terbawa emosi, putuskan dengan pikiran yang dingin.. jangan mengambil keputusan dikala hati sedang panas dan pikiran ga karuan
Dengarkan kata hatimu…

8. Dekatkan diri
Yang paling penting adalah mendekatkan diri sama ALLAH SWT, apapun masalah lo. ALLAH akan selalu ada untuk mendengar setiap doa dari lo, menjawab masalah lo, dan yang pastinya dia slalu tau apa yang terbaik untuk lo.
Kalo emang dia baik buat lo pasti nanti dipertemukan kembali, kalo emang bukan mungkin ini yang terbaik buat lo… keep husnuzon guys!

Intinya adalah kalo masih sayang kenapa mesti putus? kalo udah berani melepas berarti harus siap juga untuk menerima rasa sakitnya.. sebaiknya kalo masih bisa dipertahankan, coba pertahankan sama sama..
Jangan sampe karna emosi terus putus abis itu nyesel deh, berfikir sebelum menyesal guys;) karna cinta bukan mainan.. hehe

LET'S GO AND MOVE ON! ;D

Sabtu, 31 Agustus 2013

Orientasi Pengenalan Akademik (OPAK) UIN Syarif Hidayatulah Jkt 2013




Guys I want to share about my new student orientation experience in UIN JKT. It was fun and it was totally exciting!
At first I thought it would be super boring and the senior would be acting fierce to the new student. But... I was too early to judge. It was totally different like I thought. Here we go!

Kemarin, tanggal 29, 30, dan 31 adalah orientasi pengenalan akademik untuk mahasiswa baru UIN JKT.
Awalnya sih ikut opak itu males malesan, males karna takut ada senioritas, dll yang klasik banget lah kaya di smp/sma. Ternyata, opak di dunia perkuliahan beda ya, seru! dan.... ah pokoknya gue exited banget buat ikutan.
Walaupun hari pertama disuruh kumpul di uin jam 5 tepat, gilaaa, gue yang dasarnya PP Pasar Minggu-Ciputat berapa jam coba dijalan?  udah gitu bawa atribut yang... walah ribet deh dipegang, pake sepatu pantopel berhak yang buat kaki mudah lelah ea

But, I enjoyed it bcs it was fun.

Opak disana tuh lucu deh,.. Kaya ada pesta kostum gitu tiap fakultas. Ada fak. tarbiyah dan ilmu keguruan, fak. adab dan humaniora, fak. dirasat islamiyah, fak. psikologi, fak. kedokteran dan ilmu kesehatan, fak. ilmu sosial dan politik, fak. ushuludin dll. Banyak warna disana, dan waktu perang yel yel di lapangan uin tuh....... UNFORGETABLE! SERU BANGET GA BOONG:”

Semua maba dikumpulin di lapangan sesuai fakultasnya. Jujur, kostum yang dipake tiap fak. keren keren banget sampe gue speechless karena heran sebenernya ini opak atau fashion show lol dan yel-yelnya rame banget, bikin semangat!
Apalagi, yel yel dari fak. tarbiyah yang rame pake banget wk jelaslah fak. dengan jurusan terbanyak yang menampung maba 900 lebih mahasiswa/I baru.

3 hari opak di uin, kebersamaannya dapet banget. Apalagi dibagi bagi opaknya hari pertama itu opak dema(opak seuniversitas), hari kedua opak fakultas(opak sefakultas) dan hari terakhir opak jurusan(opak sejurusan).
Jadi, kita ga cuma kenal temen yang itu itu aja, dengan adanya opak dema kita juga bisa kenal maba dari fakultas lain yang cetar membahana.

Selain itu opak fakultas juga maanfaatnya kita ga cuma kenal temen di satu jurusan kita aja, tapi jurusan lain di luar fakultas kita juga.
Dengan adanya opak jurusan, juga banyak manfaatnya, yaitu biar tambah kompak dan kenal sama temen temen satu jurusan yang nantinya bakal jadi temen satu kelas selama kurang lebih 4 tahun ke depan.

Andai boleh diulang opaknya, SERU BANGET GUYS:”

Biasanya masa masa termales itu pas mos/ospek nah ini beda ospeknya. Jadi kita emang tetep diharusin pake atribut yang ditentuin sama bawa barang disuruh, tapi didalemnya ga ada tuh senioritas yang kayak kakak kelasnya marah marah ke adek kelas, sok kaya "gue tuh kakak kelas, lo adek kelas jadi lo harus patuh!" ga ada kata kaya gitu~ :D

Dan disana kalo ada yang ga bawa atribut ga dimarahin, tapi ya dikasih sanksi suruh minta ttd. Pokoknya opak di universitas beda banget kaya waktu mos di smp/smp, bukan lagi anak anak jadi opaknya yaa harus bukan anak anak lagi.

Waktu opak banyak diisi dengan materi, kita dikumpul di auditorium, perkenalan pengurus di uin, pengenalan unit kegiatan mahasiswa yang super niat dan keren banget, bayangin guys di dalem auditorium di setting biar bisa outbound, nari2 pake baju dari negara lain, pokoknya keren and will be make you happy.

Dan jangan lupa pas di audit, pada bawa cemilan ya, soalnya stay disitu bakalan lamaaaa dan..... agak ngantuk soalnya hape pun disita selama opak:p
Kasih standing applause dulu buat kakak kakak panitia yang sukses ngadain acara opak ini wuhuuuuu
Semoga tahun berikutnya lebih baik dari tahun ini.
aamiin

by Nurlailie Zhafirah dari jurusan PGMI fakultas tarbiyah.

Rabu, 31 Juli 2013

Broken Home



Tulisan ini terinspirasi dari orang terdekat yang mengalaminya, tulisan ini ku persembahkan untuk saudara-saudaraku, sahabatku, temanku, adik, dan kakak seperjuangan. Tulisan ini juga Aku persembahkan untuk para orang tua yang memikul beban sendirian.

Aku terlalu sayang kepadanya, kepada semua orang yang mengalami broken home dari kecil.

Dia anak yang pintar, dulunya dia adalah anak yang patuh, dulunya dia sangat mencintai kedua orangtuanya, kakaknya dan keluarganya.
Dulunya ia sangat kreatif, merupakan sosok seorang pemimpin yang pemberani membela yang lemah.
Dulunya dia sangat periang, dulunya dia ramah, dan dulunya ia tak pernah lupa akan tuhan.
Dulu dia adalah orang yang takut akan tuhan, yang menjalankan seluruh perintah-Nya dan menjauhi larangan-Nya.


Aku menyaksikan sendiri perubahannya, dari kecil aku dan dia teman bermain.


Sekarang dia tetap mencintai kedua orang tuanya. Tapi dia menyayangi keluarganya dengan cara yang berbeda, dengan cara yang kadang orang lain tidak bisa terima, aku pun kadang miris melihatnya.Kadang bantahan yang keluar dari mulutnya adalah hal yang biasa di dengar oleh ibu atau ayahnya.
Sekarang dia adalah orang yang keras hatinya, sukar diberi masukan dan sukar dinasihati. Dia terlalu lelah mendengarkan, karna dia butuh didengar dan tak ada satu orang pun yang mampu membaca jeritan hati yang tergambar jelas dari kedua bola matanya.

Sekarang dia tetap orang yang pemberani, berani bila ada keributan di kalangan teman temannya dia berdiri paling depan, bermain kasar dan menyampingkan berfikir secara rasional, mungkin kita menyebutnya…. pergaulan yang tidak sehat.
Sekarang dia sama, seorang yang tak lupa akan tuhan, iya… hanya mengingat tak melupakan tuhan tapi tidak mengerjakan apa yang diperintahkan-Nya, mengabaikan panggilan solat.
Sekarang dia tetap pintar, iya.. pintar menjawabi dan menentang keras semua nasihat orang yang ditujukan padanya.
Sekarang dia suka menjalani hobi barunya, yaitu menjalankan larangan-Nya, dan menjauhi perintah-Nya.


Salahkah dia? salahkah orang tuanya? atau… salahkah kita? siapa yang berhak disalahkan?


Tuhan, aku tak mampu melihatnya...
Setiap kali melihat wajahnya, ada luka baru yang tergores dihatiku, ada kesedihan dibalik goresan senyumku, ada sesuatu yang ingin ku perbuat dan aku selalu ingin didekatnya sambil berkata “kamu akan baik-baik saja.”
Aku ingin bilang, tapi setiap aku melihat wajahnya, mulutku seakan terkunci rapat. Tak bisa menuturkan kata dikala hati sudah menjerit karna kepedihan yang ia rasa.
Aku hanya melihatnya, tapi aku begitu terluka. Aku menyayanginya dan semua orang yang sepertinya, Tuhan. Tapi kadang, semua telah berubah, berubah dan tak akan lagi sama.
Aku menyayanginya dengan cara yang sama, rasa sayangku tak berubah sedikitpun, aku menyayanginya seperti aku menyayangi adikku.
Dia memang adikku, dari ibu dan ayah yang berbeda tentunya.


Dia memang orang yang sama. tapi hatinya, tingkahnya, sifatnya, tutur katanya, tak lagi sama.
Tutur katanya tak lagi sehalus dulu, tak lagi merendahkan suaranya saat berbicara, dia lebih suka berteriak.
Aku mengerti, tapi aku tak bisa melakukan apa-apa, aku hanya bisa terdiam dengan bodoh menyaksikan sendiri kesedihannya yang terkunci rapat dibalik ketegaran yang dia perlihatkan.

Bukan salah dia sepenuhnya, dia hanyalah seorang korban, korban dari perceraian kedua orang tuanya.

Satu kata yang lagi lagi mengiris hati saat dia bilang kepada ibunya pagi tadi “waktu mama sama papa masih nyatu aku ga kaya gini kan, salah siapa?”
Dia menyalahkan orang tuanya dibalik tingkah buruknya, dan orang tuanya hanya mampu menanggung sedih yang sangat dalam, terutama ibunya. Ada sakit hati dibalik keteduhan wajahnya, ada kerinduan kepada anak anaknya dibalik kuat raganya, dan ada tangis yang sekuat mungkin ia tahan dibalik senyum paksanya.

Ini juga bukan sepenuhnya salah orang tuanya. Suami dan istri mana yang mau rumah tangganya hancur? seorang ibu dan ayah yang mana yang mau tinggal berpisah dengan anak anaknya? Tidak sepenuhnya salah mereka, bukan mau mereka, bukan rencana mereka, semua rencana Tuhan.

Dan bukan berarti ini bukan salah kita. Ketika semua orang terdekat darinya menjauh, kita tak boleh menjauh. Seharusnya.
Ketika perhatian dari ibu dan ayahnya telah hilang, disini peran kita untuk memberikan perhatian.
Ketika perlindungan yang dulu ia dapatkan dari kedua orangnya sirna, kitalah yang berperan sebagai pelindung.
Kadang tingkah seseorang anak yang mengalami broken home sulit di arahkan karna… Hatinya mulai mengeras.
Mereka butuh didengar, mereka berprilaku menyimpang karena pelampiasan atas masalah yang dialami keluarganya.
Mereka sebenarnya anak yang baik, tapi karna kerasnya kehidupan dan masalah berat yang menimpanya adalah salah satu alasan mengapa dia-harus-berubah.

Tuhan, jagalah dia dan orang orang seperti dia yang menjadi korban kekejaman kehidupan, lindungi mereka dimana pun mereka berada, kasihi mereka tuh kasihilah mereka. melebihi kasih kedua orang tuanya padanya, kuatkan hatinya, dan berikan petunjuk kepada mereka, agar mereka tetap dijalanmu, jalan orang orang yang beruntung dan bukan termasuk orang orang yang merugi.

Memang tidak semua anak yang mengalami broken home menjadi seperti dia. Kadang bisa lebih beruntung, kadang bisa juga lebih tidak beruntung.
Tapi aku yakin walaupun perilaku mereka tidak sama, tapi masalah yang mereka alami sama.

Tulisan ini kutulis dengan segenap kerinduan pada masa kecil kita dulu untuk kamu, aku, dan mereka, yang begitu indah, tak ada beban, yang ada hanyalah ramainya tawa kita, yang sekarang mulai pudar dan menua.