;http://downloads.totallyfreecursors.com/thumbnails/sweden.gif Nurlailie Zhafirah: 2013

Minggu, 15 Desember 2013

“Puisi Untuk Ibu”




Senyum itu...
Sepertinya tak pernah sirna dari wajahmu
Senyum yang kau goreskan di wajahmu untuk menyembunyikan segala rasa letih dan lelah yang menghinggapi setiap hari
Tapi… letihmu, lelahmu seakan tak mampu mengalahkan kuatmu, Ibu
Kesal, marah, bantahan terlampau sering kami luapkan kepadamu

Tapi engkau, Ibu..
Tak pernah marah, tak pernah benci kepada kami, anak anakmu
Anak anakmu yang kadang terlalu sering membuat hatimu sakit
Membuat kau menangis karena tingkah kami yang begitu tidak dewasa

Tapi, Ibu…
Hatimu terlalu putih, terlalu tulus mencintai kami
Tanpa mengharap balas, tanpa mengeluh dan mengharap apapun itu
Cinta dan kasih mu bagai air yang mengalir,
Bagai sinar mentari yang tiada letih menerangi

Kau adalah semangatku, Ibu
Kau adalah alasan mengapa aku harus terus berlari mengejar asa
Kau adalah orang yang paling aku sayangi, walau kadang bibir tak mampu mengucap

Terimakasih Ibu, untuk segalanya, untuk rasa sayangmu yang tak pernah putus
Terimakasih aku siratkan dalam sebuah tulisan walau hanya sekedar puisi
Puisi untukmu, Ibu.. tercinta.

Rabu, 16 Oktober 2013

Seikat Mawar Putih dari Sang Fajar


Hari ini, aku serasa menghirup udara yang segar dan bersihnya. seperti rasanya hari kemarin.
Bersama bebauan harumnya bunga bunga di taman yang bewarna warni.
Bewarna warni sepeti hariku saat kita bertemu.

Hm… sudah hampir 7 bulan ya semenjak kamu ada.
Dan hariku bagai istimewa dibuatnya.

Bukan…
Aku dan dia hanya pertemanan biasa.
Dan semua orang mungkin melihatnya berbeda.
Dia selangkah lebih maju dari mereka, dari mereka yang hanya mengandalkan cinta tanpa tau tujuan kemana cinta akan dibawa.

Dia kelihatan berbeda, menggunakan cara yang tidak biasa untuk hal yang menurut orang sangat biasa.
Dia unik, membuat segalanya seolah tak ada yang biasa, ditangannya dan didekatnya semua seakan luar biasa.

Ini kali kedua dia memberikan ku setangkai bunga mawar putih, dan menurutku itu... manis.
Karena dia berbeda, dia unik.
Ketika yang lain membelikan aku seikat bunga mawar dari toko bunga, kau lain.
Kau hanya membawakan aku setangkai bunga mawar.

Apa yang membuatmu tak sama?

Kau menanamnya sendiri, kau beli bibit bunga itu lalu kau tanam dan rawat sendiri  dengan penuh kesabaran dan ketulusan hingga tanaman itu berbunga mawar berwarna putih yang sangat indah.

Manisnya. Perjuanganmu untuk memberikan setangkai bunga mawar itu untuk ku sangat... manis.
Mungkin wanita menganggap ini adalah hal biasa dan mungkin aneh.
Tapi aku memandangnya dari sudut yang berbeda, dari sudut dimana ketulusan diletakkan di strata paling utama.

Kau mencintai keindahan, aku juga...
Kau menghargai perbedaan, hmm mungkin aku juga..


Dan semoga tak ada kata “dia berbeda”  pada awalnya dan berakhir “dia ternyata sama dengan `yang lainnya”

Sudah 2 bulan aku tidak memberikan jawaban hubungan ini akan dibawa kemana.
Tapi kau tetap sabar dan tak menuntut banyak dariku.
Kau berbuat seolah aku tak perlu ragu dipelukmu, kau berbuat seolah kamu 
adalah nafas dan cahaya dikehidupanku.

Kau tidak sepenuhnya salah, tapi kau sebenarnya terbuat dari apa?
Setiap memandang wajahmu aku hanya bisa membisu, iya… karna aku tak bisa menemukan jawabnya, bahwa mengapa ada orang sepertimu yang begitu tulus menyayangiku dan tetap disampingku walau belum ada jawabku


Kau terbuat dari apa? yang lain mungkin akan pergi menjauh jika ku gantung hubungan seperti yang sedang kita jalani.
Kau terbuat dari apa?

Senyum mu menyejukkan setiap yang melihat, mungkin senyum mu diperuntukkan untuk semua orang yang melihat, tapi cintamu… siapa yang tahu?


Yang lain mengobral janji, bahwa mereka akan begini begitu begini begitu jika salah satu diantara mereka kujadikan pujaan hati.
Sementara kau…. tidak… aku bingung, jujur saja..

Sulit membacamu dan sulit menebak tingkahmu, seperti yang kita berdua tahu, tidak ada hari yang tampak biasa saat kita bertemu.

Bunga bunga di taman itu menjadi saksi bisu ku merengkuh malu mengakui hatiku tercuri olehmu dari entah kapan.
Dan senyum dan raut wajahmu seakan berbicara padaku, bahwa kamu akan selalu menjadi sang fajar di pagiku yang baru.


T

Minggu, 01 September 2013

GO AWAY HEY MANTAN PACAR ;D




Guys, tulisan gue kali ini tentang cara lupain mantan pacar. Pernah ga sih kalian terjebak nostalgia sama mantan pacar? pernah pasti ya^
Kalo dipikir pikir ga asik juga kali kalo si mantan udah punya pengganti kita sedangkan kitanya belum berhasil tuh buat moveon.

Banyak yang request sebenernya gue nulis ini, banyak diantara temen gue yang masih belum bisa move on. Makanya simak postingan gue kali ini yup, check this out;)

1. Bersikap biasa
Hal pertama yang harus lo lakuin adalah menjaga sikap, jangan lemah kalo ketemu sama dia apalagi kalo sampe tiba tiba nangis nangis gitu, JANGAN! stay cool, remember? yang paling utama emang kontrol diri lo, putus hubungan bukan berarti semuanya berakhir kan? kuatlah, setidaknya terlihat kuat dimata orang lain, dimata mantan yang paling utama wk

2. Dont stalk!
Please, jangan ngestalk twitter/fb/ig/othersocialnetwork dari mantan lo, ga peduli lo sekepo apa saat itu, plis jangan! karna ngestalk cuma buat lo makin kepo dan faktanya banyak dari kita yang abis stalking itu pada nyesek.
Jadi, selama memang ngestalk itu BELUM diperlukan, sebaiknya jangan coba coba stalk Tl mantan pacar ya, kasian hatimu makin merapuh:’)

3. Go away hey memories things!
Saran gue, kalo lo pernah dikasih barang sama mantan lo entah itu sesuatu yang kecil/besar, penting atau engga lebih baik disimpen ditempat yang paling paling aman! Aman dalam arti, lo simpen ditempat yang jarang lo temuin, atau tempat yang paling ga strategis untuk diliat. Alasannya biar lo ga keingetan terus sama mantan lo setiap ga sengaja liat barang dari dia.
Kalo emang itu barang ga ngeganggu lo dan lo biasa aja, it’s oke. Tapi kalo itu barang ngebuat lo keganggu dan jadi keingetan mantan terus mending singkirin dulu deh. Barangnya ga harus dibuang, tapi simpen aja rapi ditempat paling aman.

4. Cari Kesibukan
Sibukan diri dengan kegiatan disekolah/kampus/tempat kerja yang positif, ikut aktif dalam organisasi dan kegiatan sosial misalnya, atau salurkan hobi kalian! logikanya, kalo lo aktif diluar sekolah itu akan menyita banyak waktu lo, dengan sibuk kaya gitu ga akan ada waktu untuk mikirin seseorang yang sudah menjadi mantan disana.
Serius! untuk mikirin ini itu di organisasi aja udah menyita banyak waktu jadi kemungkinan lo galauin mantan akan sedikittt karna lo sibuk ngurusin urusan organisasi

5. Perluas zona pertemanan
Dengan memperbanyak teman jadinya lo lupa sama masalah lo, cause friendship is everything<3
Dan dengan banyak teman, jadi lo gak stuck di satu orang, kalo putus sama yang satu kan kali aja bisa jadi sama temen lo yang lain hehe bercanda yaaaa

6. Jangan terburu buru
Dengan status mantan yang udah punya pacar baru jangan sampe ngebuat lo terpojok dan pengen buru buru dapet pengganti juga, to show it to him! 
No! jangan. karna itu cuma obsesi lo, kasian orang yang jadi obsesi lo aja, cuma jadi pelarian. let it flow aja, jangan terburu buru, jadiin yang lalu sebagai pelajaran, supaya gak ngalamin hal yang sama di kehidupan yang akan datang.

7. Dengarkan kata hatimu
Sesungguhnya jeritan hati adalah yang paling jujur hihi dengarkan hatimu! dengarkan apa masih mau bertahan atau melepas? memaafkan atau meninggalkan?
Jangan terbawa emosi, putuskan dengan pikiran yang dingin.. jangan mengambil keputusan dikala hati sedang panas dan pikiran ga karuan
Dengarkan kata hatimu…

8. Dekatkan diri
Yang paling penting adalah mendekatkan diri sama ALLAH SWT, apapun masalah lo. ALLAH akan selalu ada untuk mendengar setiap doa dari lo, menjawab masalah lo, dan yang pastinya dia slalu tau apa yang terbaik untuk lo.
Kalo emang dia baik buat lo pasti nanti dipertemukan kembali, kalo emang bukan mungkin ini yang terbaik buat lo… keep husnuzon guys!

Intinya adalah kalo masih sayang kenapa mesti putus? kalo udah berani melepas berarti harus siap juga untuk menerima rasa sakitnya.. sebaiknya kalo masih bisa dipertahankan, coba pertahankan sama sama..
Jangan sampe karna emosi terus putus abis itu nyesel deh, berfikir sebelum menyesal guys;) karna cinta bukan mainan.. hehe

LET'S GO AND MOVE ON! ;D

Sabtu, 31 Agustus 2013

Orientasi Pengenalan Akademik (OPAK) UIN Syarif Hidayatulah Jkt 2013




Guys I want to share about my new student orientation experience in UIN JKT. It was fun and it was totally exciting!
At first I thought it would be super boring and the senior would be acting fierce to the new student. But... I was too early to judge. It was totally different like I thought. Here we go!

Kemarin, tanggal 29, 30, dan 31 adalah orientasi pengenalan akademik untuk mahasiswa baru UIN JKT.
Awalnya sih ikut opak itu males malesan, males karna takut ada senioritas, dll yang klasik banget lah kaya di smp/sma. Ternyata, opak di dunia perkuliahan beda ya, seru! dan.... ah pokoknya gue exited banget buat ikutan.
Walaupun hari pertama disuruh kumpul di uin jam 5 tepat, gilaaa, gue yang dasarnya PP Pasar Minggu-Ciputat berapa jam coba dijalan?  udah gitu bawa atribut yang... walah ribet deh dipegang, pake sepatu pantopel berhak yang buat kaki mudah lelah ea

But, I enjoyed it bcs it was fun.

Opak disana tuh lucu deh,.. Kaya ada pesta kostum gitu tiap fakultas. Ada fak. tarbiyah dan ilmu keguruan, fak. adab dan humaniora, fak. dirasat islamiyah, fak. psikologi, fak. kedokteran dan ilmu kesehatan, fak. ilmu sosial dan politik, fak. ushuludin dll. Banyak warna disana, dan waktu perang yel yel di lapangan uin tuh....... UNFORGETABLE! SERU BANGET GA BOONG:”

Semua maba dikumpulin di lapangan sesuai fakultasnya. Jujur, kostum yang dipake tiap fak. keren keren banget sampe gue speechless karena heran sebenernya ini opak atau fashion show lol dan yel-yelnya rame banget, bikin semangat!
Apalagi, yel yel dari fak. tarbiyah yang rame pake banget wk jelaslah fak. dengan jurusan terbanyak yang menampung maba 900 lebih mahasiswa/I baru.

3 hari opak di uin, kebersamaannya dapet banget. Apalagi dibagi bagi opaknya hari pertama itu opak dema(opak seuniversitas), hari kedua opak fakultas(opak sefakultas) dan hari terakhir opak jurusan(opak sejurusan).
Jadi, kita ga cuma kenal temen yang itu itu aja, dengan adanya opak dema kita juga bisa kenal maba dari fakultas lain yang cetar membahana.

Selain itu opak fakultas juga maanfaatnya kita ga cuma kenal temen di satu jurusan kita aja, tapi jurusan lain di luar fakultas kita juga.
Dengan adanya opak jurusan, juga banyak manfaatnya, yaitu biar tambah kompak dan kenal sama temen temen satu jurusan yang nantinya bakal jadi temen satu kelas selama kurang lebih 4 tahun ke depan.

Andai boleh diulang opaknya, SERU BANGET GUYS:”

Biasanya masa masa termales itu pas mos/ospek nah ini beda ospeknya. Jadi kita emang tetep diharusin pake atribut yang ditentuin sama bawa barang disuruh, tapi didalemnya ga ada tuh senioritas yang kayak kakak kelasnya marah marah ke adek kelas, sok kaya "gue tuh kakak kelas, lo adek kelas jadi lo harus patuh!" ga ada kata kaya gitu~ :D

Dan disana kalo ada yang ga bawa atribut ga dimarahin, tapi ya dikasih sanksi suruh minta ttd. Pokoknya opak di universitas beda banget kaya waktu mos di smp/smp, bukan lagi anak anak jadi opaknya yaa harus bukan anak anak lagi.

Waktu opak banyak diisi dengan materi, kita dikumpul di auditorium, perkenalan pengurus di uin, pengenalan unit kegiatan mahasiswa yang super niat dan keren banget, bayangin guys di dalem auditorium di setting biar bisa outbound, nari2 pake baju dari negara lain, pokoknya keren and will be make you happy.

Dan jangan lupa pas di audit, pada bawa cemilan ya, soalnya stay disitu bakalan lamaaaa dan..... agak ngantuk soalnya hape pun disita selama opak:p
Kasih standing applause dulu buat kakak kakak panitia yang sukses ngadain acara opak ini wuhuuuuu
Semoga tahun berikutnya lebih baik dari tahun ini.
aamiin

by Nurlailie Zhafirah dari jurusan PGMI fakultas tarbiyah.

Rabu, 31 Juli 2013

Broken Home



Tulisan ini terinspirasi dari orang terdekat yang mengalaminya, tulisan ini ku persembahkan untuk saudara-saudaraku, sahabatku, temanku, adik, dan kakak seperjuangan. Tulisan ini juga Aku persembahkan untuk para orang tua yang memikul beban sendirian.

Aku terlalu sayang kepadanya, kepada semua orang yang mengalami broken home dari kecil.

Dia anak yang pintar, dulunya dia adalah anak yang patuh, dulunya dia sangat mencintai kedua orangtuanya, kakaknya dan keluarganya.
Dulunya ia sangat kreatif, merupakan sosok seorang pemimpin yang pemberani membela yang lemah.
Dulunya dia sangat periang, dulunya dia ramah, dan dulunya ia tak pernah lupa akan tuhan.
Dulu dia adalah orang yang takut akan tuhan, yang menjalankan seluruh perintah-Nya dan menjauhi larangan-Nya.


Aku menyaksikan sendiri perubahannya, dari kecil aku dan dia teman bermain.


Sekarang dia tetap mencintai kedua orang tuanya. Tapi dia menyayangi keluarganya dengan cara yang berbeda, dengan cara yang kadang orang lain tidak bisa terima, aku pun kadang miris melihatnya.Kadang bantahan yang keluar dari mulutnya adalah hal yang biasa di dengar oleh ibu atau ayahnya.
Sekarang dia adalah orang yang keras hatinya, sukar diberi masukan dan sukar dinasihati. Dia terlalu lelah mendengarkan, karna dia butuh didengar dan tak ada satu orang pun yang mampu membaca jeritan hati yang tergambar jelas dari kedua bola matanya.

Sekarang dia tetap orang yang pemberani, berani bila ada keributan di kalangan teman temannya dia berdiri paling depan, bermain kasar dan menyampingkan berfikir secara rasional, mungkin kita menyebutnya…. pergaulan yang tidak sehat.
Sekarang dia sama, seorang yang tak lupa akan tuhan, iya… hanya mengingat tak melupakan tuhan tapi tidak mengerjakan apa yang diperintahkan-Nya, mengabaikan panggilan solat.
Sekarang dia tetap pintar, iya.. pintar menjawabi dan menentang keras semua nasihat orang yang ditujukan padanya.
Sekarang dia suka menjalani hobi barunya, yaitu menjalankan larangan-Nya, dan menjauhi perintah-Nya.


Salahkah dia? salahkah orang tuanya? atau… salahkah kita? siapa yang berhak disalahkan?


Tuhan, aku tak mampu melihatnya...
Setiap kali melihat wajahnya, ada luka baru yang tergores dihatiku, ada kesedihan dibalik goresan senyumku, ada sesuatu yang ingin ku perbuat dan aku selalu ingin didekatnya sambil berkata “kamu akan baik-baik saja.”
Aku ingin bilang, tapi setiap aku melihat wajahnya, mulutku seakan terkunci rapat. Tak bisa menuturkan kata dikala hati sudah menjerit karna kepedihan yang ia rasa.
Aku hanya melihatnya, tapi aku begitu terluka. Aku menyayanginya dan semua orang yang sepertinya, Tuhan. Tapi kadang, semua telah berubah, berubah dan tak akan lagi sama.
Aku menyayanginya dengan cara yang sama, rasa sayangku tak berubah sedikitpun, aku menyayanginya seperti aku menyayangi adikku.
Dia memang adikku, dari ibu dan ayah yang berbeda tentunya.


Dia memang orang yang sama. tapi hatinya, tingkahnya, sifatnya, tutur katanya, tak lagi sama.
Tutur katanya tak lagi sehalus dulu, tak lagi merendahkan suaranya saat berbicara, dia lebih suka berteriak.
Aku mengerti, tapi aku tak bisa melakukan apa-apa, aku hanya bisa terdiam dengan bodoh menyaksikan sendiri kesedihannya yang terkunci rapat dibalik ketegaran yang dia perlihatkan.

Bukan salah dia sepenuhnya, dia hanyalah seorang korban, korban dari perceraian kedua orang tuanya.

Satu kata yang lagi lagi mengiris hati saat dia bilang kepada ibunya pagi tadi “waktu mama sama papa masih nyatu aku ga kaya gini kan, salah siapa?”
Dia menyalahkan orang tuanya dibalik tingkah buruknya, dan orang tuanya hanya mampu menanggung sedih yang sangat dalam, terutama ibunya. Ada sakit hati dibalik keteduhan wajahnya, ada kerinduan kepada anak anaknya dibalik kuat raganya, dan ada tangis yang sekuat mungkin ia tahan dibalik senyum paksanya.

Ini juga bukan sepenuhnya salah orang tuanya. Suami dan istri mana yang mau rumah tangganya hancur? seorang ibu dan ayah yang mana yang mau tinggal berpisah dengan anak anaknya? Tidak sepenuhnya salah mereka, bukan mau mereka, bukan rencana mereka, semua rencana Tuhan.

Dan bukan berarti ini bukan salah kita. Ketika semua orang terdekat darinya menjauh, kita tak boleh menjauh. Seharusnya.
Ketika perhatian dari ibu dan ayahnya telah hilang, disini peran kita untuk memberikan perhatian.
Ketika perlindungan yang dulu ia dapatkan dari kedua orangnya sirna, kitalah yang berperan sebagai pelindung.
Kadang tingkah seseorang anak yang mengalami broken home sulit di arahkan karna… Hatinya mulai mengeras.
Mereka butuh didengar, mereka berprilaku menyimpang karena pelampiasan atas masalah yang dialami keluarganya.
Mereka sebenarnya anak yang baik, tapi karna kerasnya kehidupan dan masalah berat yang menimpanya adalah salah satu alasan mengapa dia-harus-berubah.

Tuhan, jagalah dia dan orang orang seperti dia yang menjadi korban kekejaman kehidupan, lindungi mereka dimana pun mereka berada, kasihi mereka tuh kasihilah mereka. melebihi kasih kedua orang tuanya padanya, kuatkan hatinya, dan berikan petunjuk kepada mereka, agar mereka tetap dijalanmu, jalan orang orang yang beruntung dan bukan termasuk orang orang yang merugi.

Memang tidak semua anak yang mengalami broken home menjadi seperti dia. Kadang bisa lebih beruntung, kadang bisa juga lebih tidak beruntung.
Tapi aku yakin walaupun perilaku mereka tidak sama, tapi masalah yang mereka alami sama.

Tulisan ini kutulis dengan segenap kerinduan pada masa kecil kita dulu untuk kamu, aku, dan mereka, yang begitu indah, tak ada beban, yang ada hanyalah ramainya tawa kita, yang sekarang mulai pudar dan menua.


Rabu, 24 Juli 2013

Sebuah persinggahan di ujung jalan




Tulisan ini ku persembahkan untuk semua orang yang terlanjur terluka, oleh seseorang yang patah hatinya.

Jangan datang jika akhirnya aku hanyalah sebuah persinggahan.
Dan jangan pernah datang jika kau akhirnya berniat untuk pergi kembali.
Tolong, jangan datang jika niatmu hanya untuk menggores luka lama.

Dulu, ya dulu…
Dulu adalah kamu.
Kamu yang seakan seperti penolongku dikala aku terjatuh.
Sebagai pelindung disaat aku terasa sendirian, sebagai penghangat disaat hatiku mulai membeku.

Kau hadir membawa warna baru.
Kau hadir mengenalkan cinta yang putih.
Yaitu cinta yang tak satupun orang yang rela menodai suci lahirnya.

Kini kamu bukanlah kamu. 
Kamu berbeda.

Entah apa yang membuatku terbangun dari mimpi yang tiada akhir, tiada ujung, dan tiada tujuan ini.

Wanita mana yang rela hanya dijadikan sebuah persinggahan, sayang?
Wanita mana?
Wanita mana yang ikhlas hanya dijadikan sebuah mainan disaat kau jenuh?
Wanita mana?
Dan wanita mana yang rela pujaan hatinya membagi hati dengan mudahnya?
Wanita mana?

Aku terlalu lelah berharap.
Aku tidak lelah menunggu, asal kau tau.
Asalkan yang ku tunggu jelas adanya, dan tau kapan harus pulang.

Tapi jika apa yang aku tunggu tak kunjung datang, apakah aku harus terus menunggunya datang?
Sampai berapa lama?
Kamu tak pernah memberi kejelasan, memberi kejelasan bahwa harus berapa lama aku menunggu kamu pulang.

Kamu tak memberikan itu kan?
Seakan aku suka menunggu, seakan aku tak merasakan apa apa saat kau pergi, dan seakan aku....
Tak bisa merasakan sakitnya tergantikan.

Aku terlalu takut sendirian.
Aku juga takut dicapakkan.
Aku takut suatu saat terlalu cinta, terlalu sayang hingga berani menggantung harapan yang terlalu dalam dan pada akhirnya akan tetap sama, yaitu kamu kecewakan aku lagi, lagi.

Sekarang aku mengerti, sekarang aku mulai memahami. 
Bahwa aku bukanlah tujuan akhir dari perjalanan cintamu yang panjang dan berliku.
Aku adalah sebuah persinggahan dimana kamu dapat sesukanya singgah dan pergi.
Memberi dan membagi hati, tak semudah itu.
Cinta tak sebercanda itu.

Kau aggap aku mainan,
Kau anggap kenangan kita dalah angan.
Terimakasih telah menyadarkan wanita ini bahwa ia hanyalah persinggahan, bukan sebuah tujuan.

Kau tau? hatiku sudah patah, dan sekarang kau ingin membuatnya hancur menjadi kepingan?
Apa kau punya hati?
Apa kau pernah merasakan rasanya menguatkan diri mengumpulkan kepingan kepingan hatimu sendirian, pernahkah?

Berpindah hati  tak semudah kedengarannya, wahai pria
Karna aku bukan seorang pemain yang dengan mudahnya memberi hati ke semua orang seakan aku haus akan cinta, bukan!

Aku hanya merindukan “kita” yang dulu.
“kita” yang kini hanya tinggal “aku” tak ada lagi “kita” yang ada “kamu dan dia”

Jika memang aku harus melepasmu… berjanjilah padaku… jangan kembali lagi jika suatu saat aku berhasil menemukan pengganti, yang menjadikan ku sebagai tujuan akhir, dan bukan sebuah persinggahan diujung jalan.

Berjanjilah, agar aku dapat berhenti menunggu sesuatu yang tidak bisa digapai, dan tidak dapat disentuh.
Berjanjilah, sayang.
Berjanjilah atas nama kamu dan pendampingmu yang baru.


Rabu, 17 Juli 2013

Seperti secarik kertas yang tersisihkan





Pagi ini… mimpi itu memaksaku untuk harus terbangun.. untuk berani menatap wajah dunia nyata, tanpa terus berangan...


Ini bukan mimpi tentangmu, tapi entahlah.. orang yang pertama ku fikirkan setelah bangun, mengapa terbesit namamu? aku tidak mengerti… sayangnya, aku memang tidak akan pernah bisa mengerti..


Pagi ini, aku seperti anak remaja lain yang biasanya berubah menjadi stalker. aku benci kenapa harus menjadi seperti ini, keterganrtungan atas hausnya mendengar kabarmu, bukan bukan…. hanya sekedar ingin mengetahui keadaanmu, lewat dunia dimana ada orang yang memperhatikan tingkahmu dalam diam, dunia dimana ada orang yang rindu mengetahui kabarmu, dunia dimana semua… dilakukan dalam diam, dunia maya.


Iya… pagi ini juga kamu benar benar membuat mata hatiku mengerti, mengerti kalau…. ternyata kita memang hanya berteman, ternyata rasamu bukan untuk ku lagi dan ternyata rasaku... semakin dalam, dan sakitnya aku memang harus menyadari.. kita memang benar benar selesai… selesai sebelum pernah dimulai.

Aku tidak akan menangis, kamu… tidak usah khawatir, bukan bukan… dan bahkan kamu tidak usah mencoba untuk bisa khawatir.

Aku memang salah semuanya ku simpulkan sendiri, seakan kamu mempunyai rasa yang sama… seakan kamu hanya menyimpan namaku dalam relung hatimu dan seakan… namaku terlalu terselip dalam doamu, seperti yang kulakukan disetiap sujud dihariku, selalu terselip namamu.

Bahkan semua hanya… seperti deburan ribuan debu di kaca, yang memang harus dihapus… seperti kamu, yang telah lama menjadikanku debu dikaca.


Demi tuhan, ini salahku… yang tak pernah bisa menggantikan namamu dalam asa, tak pernah tega menghapus namamu dalam doa, dan tak pernah rela menggeser namamu dalam hati yang sekarang jadi kepingan.

Otak ku berkecamuk, ingin rasanya meletupkan amarah, dan kesedihan yang mendalam, tapi sayang… kepada siapa? hanya tuhan yang mengerti rasa sakitnya, dan yang lain hanya terdiam tanpa melakukan apa apa.

Dia siapa? kata itu yang sangat ingin ku tanyakan, hanya kata itu yang bisa membuat hatiku tercabik… lagi. Memangnya aku siapa? lagi lagi kata itu meredamkan segala keberanian ku menanyakan “dia siapa”. Lagi lagi, kata itu membuat aku seperti tidak ingin lagi hidup dalam pengabaian


Aneh rasanya terus memaksakan hidup dalam pengabaianmu, menggantungkan asa dengan sepenuh harapku kepadamu. Dan seseorang tidak terus hidup dalam cambukkan dan siksaan pegabaianmu yang terlalu dalam.

Sayangnya semua kulakukan dalam diam, kecewa dan sedihku hanya kulakukan dalam diam, tangis dan tawa ku tentang mu hanya kulakukan dalam diam, aku hanya bisa mencintaimu dalam diam disaat semua kata rasanya tidak mampu kuungkapkan, disaat doa dalam sujud adalah jalan keluar, untuk mendoakan orang yang berhasil mengambil simpatiku sampai sekarang, kamu..


Lagi lagi, kamu tidak perlu mencoba mengerti bagaimana rasa sakitnya, biar… biar hanya aku saja yang menanggung rasa sakitnya terabaikan.

Aku tidak menyebut ini karma, dan jika memang karma, aku ingin merasakan dan tidak akan terlewatkan sedikit pun rasanya sakitnya. Agar aku bisa lebih mengahargai setiap yang datang dan mengikhlaskan setiap yang pergi.

Seperti mungkin yang aku lakukan dulu kepadamu, tidak menganggapmu ada.. dan kini  kamu yang tidak menganggapku ada. Sekarang giliran aku, yang merasakan sendirian bagaimana rasanya terabaikan.

Diantara banyak yang datang, belum ada yang sepertimu, yang dapat menarik simpatiku sampai sejauh ini. Belum ada yang seperti mu, yang membuatku berani menggantung asa padamu. Belum ada yang sepertimu, yang tidak dapat terbaca. Belum ada yang seperti mu, belum.

Kamu seperti sebuah pena yang menari-nari dalam secarik kertas, yang berbagi  indahnya tulisan ceritamu diatas kertas polos, dan saat kertas itu sudah penuh akan cerita cerita tentang mu, kau akan pindah ke kertas yang lain… kertas yang masih belum ada tulisan didalamnya, dan kau menuliskan ceritamu lagi, dan seterusnya. dan pada akhirnya aku hanyalah secarik kertas yang kau sisihkan.

Memang sudah seharusnya melepas apa yang harus dilepas, memang seharusnya menghapus apa yang harus dihapus, memang seharusnya merelakan apa yang bukan milik kita.

Jangan khawatir, tekatku sudah bulat untuk keluar dalam bayang bayangmu, dan jangan remehkan aku apakah aku bisa melakukannya, jangan!


Aku fasih dengan bersandiwara, tenang saja. Kau tak akan liat wajah terpuruk dan tersakiti diwajahku, aku tak pernah akan menampakkan itu, yang kau lihat nanti hanya senyum, tenang saja, hanya sebuah senyum!

Senyum yang terpaksa digoreskan diwajah untuk menutupi semua… semuanya… semua.

Selamat tinggal, kamu, yang telah berhasil membuatku terpuruk begitu dalam.
Selamat tinggal kamu, seseorang yang selalu menarik di mataku.
Selamat tinggal kamu…


Kisahmu tak akan ku lupa, karna kau seperti bunga edelweiss, kisahmu akan abadi direlung.
Hati ini, diiringi jeritan hati seseorang yang terlanjur terluka, hanya kisah tak beserta kepingan luka.

Selamat tinggal kamu.

Dan jebakkan nostalgia itu, sebentar lagi hanya sebuah cerita, tak aka nada lagi tawa, tangis, kecewa, bahagia, sedih. yang tersisa hanyalah cerita tentangmu… yang siap untuk dihapus dari catatan hati dan fikiranku secepatnya.

Aku tak akan memaksakan “ada” dalam bahagiamu dengan dia, jangan khawatir… aku tidak apa-apa, lanjutkanlah.